Sabtu, 02 Mei 2009

Dasar - Dasar Fotografi

Dasar - Dasar Fotografi

Siapa saja bisa memotret. Dengan tambahan pikiran kreatif dan kerja keras, kita dapat menciptakan gambar hebat yang menunjukkan segenap kreasi dan interpretasi terhadap apa yang dilihat dan jepret. Nah, seni mengabadikan gambar dengan menggunakan kamera di sebut dengan Fotografi.
Fotografi berasal dari bahasa Latin yaitu: photos adalah cahaya, sinar. Sedang graphein berarti tulisan, gambar atau disain bentuk. Jadi, fotografi secara luas adalah menulis atau menggambar dengan menggunakan cahaya. Gambar mati atau lukisan yang didapat melalui proses penyinaran dengan menggunakan cahaya.Karena dalam membuat gambar kita mengguanakan alat kamera maka sudah tentu kita harus benar-benar menguasai alat tersebut juga beberapa teknik dasarnya.

Dalam menggunakan kamera, kita mengenal apa yang disebut dengan:

Fokus
Fokus adalah titik api

Rana/Kecepatan
Rana adalah tirai yang bergerak turun naik di dalam kamera yang berfungsi untuk mengatur berapa lama film hendak disinari. Rana memiliki satuan dengan nomor: B-1-2-4-8-15-30-60-125-250-500-1000-2000. Besar kecilnya satuan rana dapat ditentukan sendiri dengan mengatur besar dan kecilnyanya satuan rana dan besarnya diafragma.
Ada beberapa rana dalam kamera. Diantaranya rana celah dan rana pusat. Rana celah ada dua yaitu: Rana celah vertical dan horizonta. Keduanya terletaDia pada kamera yang bertugas menutup tirai dan mengikuti fungsinya. Rana vertial menutup secara vertikal dan yang horizontal menutup secara horizontal.
Sedang Rana pusat adalah, Rana yang terletak pada lensa letaknya berdampingan dengan diafragma dan menutupnya dengan cara memusat.

Diafragma


Diafragma adalah lubang dalam lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Diafragma memiliki beberapa ukuran atau angka-angka. Setiap lensa mempunyai perbedaan bukaan diafragma masing-masing. Biasanya, ukuran diafragma dimulai dengan 2,8-4-5,6-8-11-16-22. Besar kecilnya bukaan diafragma yang kita pilih menghasilkan foto yang berbeda. Bukaan diafragma kecil akan menghasilkan ruang yang luas. Sedang bukaan diafragma besar akan membuat ruang tajam sempit (Blur).
Atau mudahnya, diafragma artinya bukaan lensa. Efeknya, makin besar bukaan,maka makin besar kecepatan yang dibutuhkan, speed makin tinggi. Efek lainnya, makin besar bukaan, makin sempit ruang tajamnya, artinya makin besar efek blur untuk daerah diluar ruang tajam yang fokus. Banyak cara dan tujuan penggunaan/pemilihan diafragma, yg antara lain akan jelas mempengaruhi konteks dari foto yg kita buat
Misal untuk memotret landscape, dengan memakai kamera apapun, coba setel ke diafragma paling sempit (angka paling besar) yang mungkin dicapai, lalu diimbangi dengan penyetelan lama waktu bukaan seperlunya (perhatikan light meter).
Tapi khususnya untuk pemotretan malam, kadang kita tidak bisa mencapai bukaan paling sempit karena terbatas waktu bukaan shutter yang tidak bisa terlalu lama, apalagi di kamera prosumer yang biasanya terbatas hanya 13 detik maksimum. Untunglah untuk kamera digital prosumer hal ini tidak masalah, soalnya dengan ukuran sensor yang jauh lebih kecil daripada satu frame film 35mm maka ruang tajam tetap cukup luas, walaupun diafragma disetel ke f/3.5 misalnya. Dan, semuanya tergantung bagaimana foto akan kita buat.


Pencahayaan
Pencahayaan adalah proses menyinari film dengan cahaya yang datang dari luar kamera dengan mengontrol besarnya diafragma dan kecepatan.Dalam pencahayaan, bukaan diafragma menentukan intensitas cahaya yang diteruskan film. Sedangkan kecepatan rana menentukan jangka waktu transmisi sinar.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menentukan kombinasi yang tepat antara bukaan diafragma dengan kecepatan. Salah satunya dengan memilih prioritas diafragma. Maksudnya, pemotret bisa memilih berapa besar bukaan diafragma yang akan digunakan. Setiap bukaan diafragma yang dipilih akan membuat hasil gambar yang berbeda. Bila pemotret memilih menggunakan rana tinggi, maka itu berguna untuk menghentikan aksi. Sedang rana rendah akan membuat aksi kabur.Sedang untuk mengambil gambar di tempat dengan cahaya yang kurang maka untuk mengatasinya yang dilakukan oleh fotografer adalah memakai film dengan kecepatan tinggi. Misalnya Iso 400, 600, 800 atau Iso 1600.
Cara untuk mengukur pencahayaan biasanya ada di setiap kamera. Untuk mengukur cahaya agar sesuai, kita bisa mensiasatinya dengan cara mengukur telapak tangan atau mendekatkan kamera kita sekitar 30 cm dari objek. Maka, kita akan mendapatan pencahayaan yang sesuai.Untuk mendapatkan cahaya yang baik dalam pemotretan biasanya kita akan memilih memotret pada jam 08.00-10.00 dan 16.00-18.00. biasanya dalam waktu ini, cahaya dalam kondisi yang baik, dan tak terlalu keras.
Dalam pencahayaan ada beberapa teknik yang harus diperhatikan. Diantaranya:
Penerangan depan: Sumber cahaya berasal dari depan objek. Cahaya ini akan menghasilkan gambar yang datar.
Penerangan belakang : Sumber cahaya berasal dari belakang objek. Dengan sumber cahaya yang seperti ini maka objek yang kita ambil menjadi shiluette (hitam). Pemotretan dengan sumber cahaya dari belakang dilakukan bila kita ingin membuat sebuah foto shiluete.
Penerangan Samping : Pemotretan dengan memakai sumber cahaya dari samping membuat objek yang kita ambil akan nampak tegas. Biasanya cahaya ini

Lensa
Lensa adalah alat yang terdiri dari beberapa cermin yang berfungsi mengubah benda menjadi bayangan, terbalik dan nyata. Lensa terletak di depan kamera. Ada beberpa jenis lensa. Lensa normal, lensa lebar (wide) dan lensa panjang atau biasa disebut dengan lensa tele.
Lensa normal berukuran fokus sepanjang 50 mm atau 55 mm untuk film berukuran 35 mm. Sudut pandang lensa ini hampir sama dengan sudut pandang mata manusia. Selain lensa lebar, ada juga lensa tele.
Lensa lebar bisanya mempunyai lebar fokusnya 16-24mm. Lensa ini cocok untuk mengambil gambar pemandangan.
Lensa tele adalah lensa yang memiliki focal length panjang. Lensa ini dapat digunakan untuk memperoleh ruang tajam yang pendek dan dapat menghasikan prespektif wajah yang mendekati aslinya. Lensa ini biasanya berukuran 85mm, 135mm dan 200mm.
Bisanya fotografer menggunakan lensa sesuai dengan kebutuhannya. Bila ingin memotret benda atau objek yang dekat, atau memotret pemandangan, biasanya mereka menggunakan lensa normal atau lensa dengan sudut lebar.
Namun bila fotografer ingin mengabadikan sebuah moment tertentu dengan jarak yang jauh, biasanya mereka menggunakan lensa tele. Dengan demikian, mereka tak perlu repot untuk membidik objek, dan kerja mereka akan semakin mudah.
Selain lensa normal dan lensa tele, ada juga jenis lensa lainnya yang biasa disebut dengan lensa variasi atau lensa special (special lense). Biasanya lensa ini digunakan untuk keperluan tertentu. Contohnya fish eye lens (lensa mata ikan - 180 derajat).
Memotret dengan lensa ini fotografer akan memperoleh hasil yang unik. Namun, lensa ini tidak berfungsi untuk menyaring sesuatu kecuali mengubah pandangan guna mencapai hasil yang menyimpang dari pemotretan biasa.
Bila fotografer ingin mengambil objek dengan ukuran kecil atau pemotretan berjarak dekat (mendekatkan pemotret ke objek), umumnya lensa yang dipakai adalah lensa makro. Lensa ini biasanya juga dipakai untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan distorsi minimal. Misalnya: untuk memotret bunga, serangga, dll.
Selain peralatan, untuk menghasilkan sebuah foto yang baik kita juga harus memperhatikan beberapa hal diantaranya: Komposisi, cahaya, garis, bentuk, tekstur, rupa, warna dan vertical atau horizontal.

Komposisi
Komposisi adalah susunan objek foto secara keseluruhan pada bidang gambar agar objek menjadi pusat perhatian (POI=Point of Interest). Dengan mengatur komposisi foto kita juga dapat dan akan membangun “mood” suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek.
Berbicara komposisi maka akan selalu terkait dengan kepekaan dan “rasa” (sense). Untuk itu sangat diperlukan upaya untuk melatih kepekaan kita agar dapat memotret dengan komposisi yang baik.
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk menghasilkan komposisi yang baik.
Diantaranya:
Sepertiga Bagian (Rule of Thirds)
Pada aturan umum fotografi, bidang foto sebenarnya dibagi menjadi 9 bagian yang sama. Sepertiga bagian adalah teknik dimana kita menempatkan objek pada sepertiga bagian bidang foto. Hal ini sangat berbeda dengan yang Umum lakukan, di mana kita selalu menempatkan objek di tengah-tengah bidang foto.
Sudut Pemotretan (Angle of View)
Salah satu unsur yang membangun sebuah komposisi foto adalah sudut pengambilan objek. Sudut pengambilan objek ini sangat ditentukan oleh tujuan pemotretan. Maka dari itu, jika kita ingin mendapatkan satu moment dan mendapatkan hasil yang terbaik, kita jangan pernah takut untuk memotret dari berbagai sudut pandang. Mulailah dari yang standar (sejajar dengan objek), kemudian cobalah dengan berbagai sudut pandang dari atas, bawah, samping sampai kepada sudut yang ekstrim.
Komposisi pola garis Diagonal, Horizontal, Vertikal, Curve.
Di dalam pemotretan Nature, pola garis juga menjadi salah satu unsur yang dapat memperkuat objek foto. Pola garis ini dibangun dari perpaduan elemen-elemen lain yang ada didalam suatu foto. Misalnya pohon,ranting, daun, garis cakrawala, gunung, jalan, garis atap rumah dan lain-lain..
Elemen-elemen yang membentuk pola garis ini sebaiknya diletakkan di sepertiga bagian bidang foto. Pola Garis ini dapat membuat komposisi foto menjadi lebih seimbang dinamis dan tidak kaku.
Background (BG) dan Foreground (FG)
Latar belakang dan latar depan adalah benda-benda yang berada di belakang atau di depan objek inti dari suatu foto. Idealnya, BG dan FG ini merupakan pendukung untuk memperkuat kesan dan fokus perhatian mata kepada objek.
Selain itu juga “mood” suatu foto juga ditentukan dari unsur-unsur yang ada pada BG atau FG. BG dan FG, seharusnya tidak lebih dominan (terlalu mencolok) daripada objek intinya. Salah satu caranya adalah dengan mengaburkan (Blur) BG dan FG melalui pengaturan diafragma.
Beberapa teknik sudut pengambilan sebuah foto, yaitu:

Pandangan sebatas mata (eye level viewing);
paling umum, pemotretan sebatas mata pada posisi berdiri, hasilnya wajar/biasa, tidak menimbulkan efek-efek khusus yang terlihat menonjol kecuali efek-efek yang timbul oleh penggunaan lensa tertentu, seperti menggunakan lensa sudut lebar, mata ikan, tele, dan sebagainya karena umumnya kamera berada sejajar dengan subjek.

Pandangan burung (bird eye viewing);
bidikan dari atas, efek yang tampak subjek terlihat rendah, pendek dan kecil. Kesannya seperti “kecil”/hina terhadap subjek. Manfaatnya seperti untuk menyajikan suatu lokasi atau landscap.
Low angle camera;
pemotretan dilakukan dari bawah. Efek yang timbul adalah distorsi perspektif yang secara teknis dapat menurunkan kualitas gambar, bagi yang kreatif hal ini dimanfaatkan untuk menimbulkan efek khusus. Kesan efek ini adalah menimbulkan sosok pribadi yang besar, tinggi, kokoh dan berwibawa, juga angkuh. Orang pendek akan terlihat sedikit “normal”. Menggambarkan bagaimana anak-anak memandang “dunia” orang dewasa. Termasuk juga dalam jenis ini pemotretan panggung, orang sedang berpidato di atas mimbar yang tinggi.

Frog eye viewing
pandangan sebatas mata katak. Pada posisi ini kamera berada di bawah, hampir sejajar dengan tanah dan tidak diarahkan ke atas, tetapi mendatar dan dilakukan sambil tiarap. Angle ini digunakan pada foto peperangan, fauna dan flora.
Waist level viewing,
pemotretan sebatas pinggang. Arah lensa disesuaikan dengan arah mata (tanpa harus mengintip dari jendela pengamat). Sudut pengambilan seperti ini sering digunakan untuk foto-foto candid (diam-diam, tidak diketahui subjek foto), tapi pengambilan foto seperti ini adalah spekulatif.
High handheld position;
pemotretan dengan cara mengangkat kamera tinggi-tinggi dengan kedua tangan dan tanpa membidik. Ada juga unsur spekulatifnya, tapi ada kiatnya yaitu dengan menggunakan lensa sudut lebar (16 mm sampai 35 mm) dengan memposisikan gelang fokus pada tak terhingga (mentok) dan kemudian memutarnya balik sedikit saja. Pemotretan seperti sering dilakukan untuk memotret tempat keramaian untuk menembus kerumunan.


Film
Film adalah media untuk merekam gambar yang terdiri dari lempengan tipis dengan emulsi yang peka cahaya. Karena peka cahayalah yang membuat film harus disimpan dalam kotak atau tabung yang tak terkena cahaya. Film mempunyai ukuran 35mm dan 120mm atau disebut medium format.
Ada beberapa jenis film. Diantaranya:

NEGATIF FILM:
Film negatif atau klise, adalah sebutan untuk citra yang terbentuk pada film sesudah dipotretkan dan sesudah dikembangkan, di mana bagian yang terlihat gelap pada gambar, pada objek terlihat terang. Warna yang timbul berlawanan karena bagian terang dari objek memantulkan banyak cahaya ke film dan menghasilkan area gelap

X-RAY FILM:
Film sinar-x. Film ini dibuat kontras dan dibungkus dengan kertas timah. Karena sinar x dapat menembus benda-benda padat seprti kulit, tekstil, dan lain-lain, maka dalam pemotretan akan tampak bayangan-bayangan yang mengganggu. Film ini biasa digunakan dalam bidang kedokteran dan pengobatan.


POLAROID FILM:
Polaroid film adalah film yang digunakan untuk menghasilkan foto dalam waktu singkat tetapi tidak mempunyai negatif. Dahulu banyak fotografer professional yang menggunakan kamera ini namun semakin hari kamera dan film jenis ini sudah ditinggalkan. Hanya sebagian fotografer yang masih memakainya. Film Polaroid ditemukan oleh dr Land.


ORTHOCHROMATIC FILM:
Film yang sensitif terhadap warna biru dan hijau tapi tidak pada merah.


MEDIUM FILM:
Film dengan kecepatan sedang (ISO 100, 200). Kelompok film yang paling popular dan banyak diminati pemotret. Ideal untuk pemotretan dalam cuaca yang terang/cerah.
Iso
Iso adalah standard untuk kategori film yang digunakan yang mengindikasikan besar kepekaan film terhadap cahaya. Semakin kecil angka iso, semakin rendah kepekaannya terhadap cahaya. Kepekaan cahaya ini sangat menjadi prioritas dalam pemotretan. Biasanya bila kita ingin memotret pada suasana cahaya yang terang maka, kita dianjurkan memakai film dengan Iso 100 atau film dengan kecepatan rendah.
Ukuran Iso pada film ada berbagai jenis ukuran: 25-50-100-200-400-600-800 dan 1600.
Filter
Penyaring dalam bentuk kaca yang tembus cahaya yang mempunyai ketebalan rata . Filter biasanya dipasang di ujung depan lensa. Ada beberapa jenis filter, diantaranya:


POL COLOR FILTER:
Filter yang terdiri dari selembar polarisator kelabu dan polarisator warna, terdapat berbagai kombinasi warna sehingga dapat digunakan untuk efek-efek tertentu.


POL COLOR FILTER:
Filter yang terdiri dari selembar polarisator kelabu dan polarisator warna, terdapat berbagai kombinasi warna sehingga dapat digunakan untuk efek-efek tertentu.


POL CONVERSION FILTER:
Filter terdiri dari selembar polarisator dengan filter konversi warna (85B). Biasanya juga digunakan untuk jenis kamera kine, sehingga memungkinkan film tungsten digunakan untuk cerah hari dan mempunyai efek seperti filter polarisasi.


POL FIDER FILTER:
Filter yang terdiri dari dua filter PL linier yang digabung menjadi satu. Jumlah filter yang masuk dapat diatur dengan memutar gelang filter.


POLARIZING CIRCULAR FILTER:
Filter yang dibuat dari lembaran polarisator linier dan keeping quarter wave retardation, dilapi di antara dua gelang filter. Efeknya sama dengan filter polarisasi, biasanya digunakan untuk kamera kine.


POLARIZING FILTER:
Filter polarisasi, dipakai untuk menghilangkan refleksi dari segala permukaan yang mengkilap. Filter ini terdiri dari dua bagian, bagian yang satu dengan lain dapat diputar-putar untukmendapatkan sudut paling ideal menghilangkan refleksi, menambah saturasi warna dan menembus kabut atmosfer. Juga berguna untuk membirukan langit.


ND FILTER:
Filter ND. Filter ini berfungsi untuk menurunkan kekuatan sinar 2 kali sampai 8 kali. Filter ini bernada abu-abu muda atau sedang dan tidak mengubah warna gambar.


NEBULA FILTER:
Filter yang menghasilkan gambar dengan efek pancaran sinar radial yang berpelangi.

Selasa, 31 Maret 2009


Mudahkah Melakukan Survei Kepemirsaan Televisi?


Acuan Standar

AGB Nielsen Media Research (AGBNielsen) adalah perusahaan yang kini menyelenggarakan survei kepemirsaan TV atau TV Audience


Measurement (TAM) di 10 kota di Indonesia dan merupakan bagian dari penyelenggara survei global kepemirsaan TV di lebih dari 30

negara di seluruh dunia. AGBNielsen merupakan kelompok perusahaan gabungan (joint venture) dari dua perusahaan riset TV terkemuka

di dunia, yaitu AGB Group (beroperasi di sekitar 30 negara) dan Nielsen (beroperasi di sekitar 70 negara), yang berpusat di Eropa

(Switzerland dan Italia). Di Indonesia, AGBNielsen merupakan penyelenggara survei kepemirsaan TV yang ke-empat (setelah SRI,

ACNielsen, dan Nielsen Media Research).

Dalam melaksanakan survei kepemirsaan TV, seluruh penyelenggara harus mengacu pada panduan global, “Global Guidelines for

Television Audience Measurement” (GGTAM) yang dibuat oleh Audience Research Method (ARM) Group dan disponsori oleh EBU

(European Bradcasting Union), beserta lembaga-lembaga lain, di antaranya ARF (Advertising Research Foundation), ESOMAR (European

Society for Opinion & Marketing Research) dan WFA (World Federations of Advertisers). Dokumen ini terakhir dipublikasikan pada tahun

1999 serta diperbarui setiap satu dekade sekali. Dengan mengacu pada GGTAM, AGBNielsen beroperasi pada standarisasi yang bukan

saja terkini, tetapi juga menyesuaikan dengan kondisi pertelevisian di masing-masing negara dalam hal penerapan teknologi, baik

perangkat keras (metering technology) maupun perangkat lunak (software production and analysis). Kondisi pertelevisian suatu negara

yang mempengaruhi di antaranya menyangkut ada tidaknya siaran berbasis digital, model TV berlangganan (Pay TV), seperti Satelit dan

Kabel, serta infrastruktur telekomunikasi untuk data transfer.

Pada pelaksanaannya, survei kepemirsaan TV bukanlah persoalan metodologi riset semata yang harus mengikuti standar internasional

yang tertuang dalam GGTAM, tetapi juga menyangkut teknologi yang kerap berubah hampir setiap dua tahun. Selain kedua hal tersebut,

ada pula proses ’production & delivery’ hasil riset yang harus memiliki standar analisis yang sama di setiap negara karena tidak mungkin

pengiklan suatu produk yang dipasarkan di berbagai negara mengevaluasi efektifitas iklan produknya di TV melalui berbagai macam tolok

ukur (benchmark) sebagai standar analisisnya.

Dengan metodologi yang mengacu pada standar global, sistem yang digunakan AGBNielsen ini adalah hasil dari pengalaman selama

bertahun-tahun, dari bagian riset dan pengembangan, serta kemampuan untuk berkembang sejalan dengan perubahan teknologi

pertelevisian, teknologi riset dan kebutuhan pengguna atas sistem pengukuran kepemirsaan televisi.



Proses Dasar

Pengoperasian dan prosedur standar survei kepemirsaan TV yang mengacu pada proses dan standar global amatlah penting. Hal ini terkait

dengan semakin banyaknya perusahaan media, pengiklan dan agensi periklanan yang beroperasi di berbagai negara di dunia yang

membutuhkan informasi kepemirsaan TV yang memenuhi standar internasional, memenuhi standar akurasi, dan dapat menyajikan data

secara cepat.

Seiring dengan konsolidasi yang terus berjalan dalam industri periklanan televisi, serta semakin banyaknya perusahaan lokal yang

menciptakan jejak global, pemenuhan ketiga kebutuhan tersebut secara simultan semakin diperlukan. Standar internasional di sini tidaklah

2

cukup hanya mencakup satu atau dua negara atau kawasan di luar Indonesia saja karena pengiklan dan content provider kini memiliki

kegiatan yang tidak lagi mengenal batas negara.

Ada tujuh proses pokok yang mutlak dilakukan dalam penyelenggaraan survei kepemirsaan TV. Ketujuh tahap proses tersebut tercakup

dalam diagram berikut:

1. TV Establishment Survey:

Tahap ini adalah tahap pra-survei untuk menentukan besaran populasi individu yang memiliki TV di rumahtangganya sebagai

jumlah pemirsa potensial yang memiliki kesempatan untuk menonton TV. Dengan berpatokan pada data populasi suatu kota,

maka hasil Establihment Survey (ES) dapat memproyeksikan beberapa hal di antaranya, jumlah rumahtangga yang memiliki TV

atau HUT (household using TV) dan jumlah individu yang tinggal di rumahtangga yang memiliki TV tersebut atau PUT (people

using TV). PUT dikenal juga sebagai populasi TV (TV population). Selain itu, ES juga memberikan informasi karakteristik

demografi individu di rumahtangga TV (seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dsb.), serta karakteristik rumahtangga (seperti

informasi pengeluaran rumahtangga, kepemilikan barang, kondisi rumah, dsb; yang akan menentukan kategori kelas sosial

ekonomi rumahtangga tersebut). ES, yang menentukan populasi TV untuk TAM dan dilakukan melalui metode sampling secara

proporsional dan bertahap (proportional stratified random sampling), selalu diperbarui setiap tahun dengan mengacu pula pada

GGTAM. Untuk populasi TV, Indonesia menggunakan dasar perhitungan dengan batasan usia 5 tahun ke atas berdasarkan hasil

studi terpisah tentang hubungan tingkat usia dengan kemampuan menyalakan dan menonton TV secara mandiri.

2. Pemilihan Panel:

Setelah populasi TV diperoleh melalui tahap ES, maka tahap sampling kedua adalah pemilihan panel rumahtangga yang akan

menjadi responden untuk survei kepemirsaan TV. Pada tahap ini, penerapan standar prosedur operasional survei (standard

operating procedure) atas metodologi, tidak hanya mengacu pada GGTAM, tetapi juga pada standar pengujian operasional atau

BDP (best demonstrated practice) dengan memperhatikan kekhususan suatu negara dalam menetapkan kaidah metode sampling

secara proporsional dan bertahap (proportionate random sample). Kekhususan yang dimaksud di antaranya adalah struktur

pembagian secara administratif suatu kota atau suatu negara. Negara kota, seperti Singapura dan Hongkong akan memiliki

struktur pembagian administratif yang lebih sederhana dibandingkan dengan Cina dan Indonesia. Dengan demikian, stratified

random sampling di Indonesia akan berbeda tahapannya jika dibandingkan dengan Singapura.

Rumahtangga terpilih pada tahap ini kemudian dijadikan panel, di mana anggota rumahtangga yang berusia 5 tahun ke atas

menjadi responden survei kepemirsaan TV. Perekrutan panel ini dilakukan dengan memperhatikan kaidah kerahasiaan panel

guna menghormati ‘privacy’ panel rumahtangga. Setelah rumahtangga bersedia menjadi panel, maka instalasi alat survei

3

elektronik (peoplemeter) dilakukan pada semua TV yang berfungsi baik dan aktif digunakan oleh anggota rumahtangga terpilih.

Pembantu, sopir, satpam, tamu, dll yang bukan anggota rumahtangga tidak termasuk responden. Jika ada TV yang dikhususkan

bagi mereka, peoplemeter tidak akan dipasang pada TV tersebut. Jika mereka menonton TV yang digunakan anggota

rumahtangga, maka melalui tombol khusus yang disediakan bagi mereka, data kepemirsaan mereka dapat secara mudah

diidentifikasikan, tetapi tidak diolah (discarded).

3. Pemasangan Peoplemeter beralih ke Teknologi TVM-5®:

Peoplemeter atau alat survei elektronik untuk survei kepemirsaan TV tidak hanya terdiri dari satu jenis. Sama halnya dengan

telepon selular, peoplemeter pun beragam jenisnya sesuai dengan kondisi pertelevisian di suatu negara, namun tetap harus

memiliki standar teknis yang disertifikasi secara internasional oleh lembaga internasional seperti ARM Group, yang juga

mengeluarkan GGTAM.

Beberapa jenis peoplemeter di antaranya adalah untuk lingkungan dengan siaran analog (analog environment), lingkungan digital

(digital environment), untuk pengumpulan data secara off-line melalui modul (seperti disket yang merekam data) dan

pengumpulan secara on-line melalui transmisi data, baik telepon biasa maupun GSM.

Dengan tingginya penetrasi telepon selular di Indonesia, maka jenis peoplemeter dengan metode GSM online (series TVM-5®)

akan menggantikan jenis peoplemeter dengan pengumpulan data secara off-line. Sementara teknologi off-line membutuhkan

waktu seminggu hingga sepuluh hari dalam mengumpulkan dan menyajikan data, teknologi on-line memungkinkan tersedianya

data kepemirsaan TV secara cepat, bahkan dalam hitungan semalam (Daily Rating atau Overnight TAM Data).

TVM5® mewakili generasi terbaru dari seri TV metering system. TVM5® dirancang agar sesuai untuk mengukur semua platform

TV. Alat ini berbasiskan konsep non-intrusif dan menekankan pentingnya keterandalan dalam pengukuran kepemirsaan TV, baik

analog maupun digital. TVM5® juga meminimalisir campur tangan anggota panel rumahtangga, sekaligus memungkinkan sistem

manajemen jarak jauh, termasuk pemeriksaan on-line jarak jauh, pengecekan atas standar konfigurasi, dan pemrograman.

Setiap set TVM5® yang dipasang di setiap TV dilengkapi dengan suatu handset (seperti remote control untuk berkomunikasi

dengan peoplemeter), yang memiliki tombol untuk masing-masing anggota rumahtangga (misalnya tombol 1 untuk Ayah, tombol 2

untuk Ibu, dsb). Handset tersebut digunakan oleh anggota rumahtangga untuk mencatat kepemirsaan TV hanya dengan menekan

tombol saat menonton TV dan menekannya kembali untuk mematikan pengukuran (bukan TV) jika tidak menonton. Peoplemeter

akan secara otomatis merekam kepemirsaan anggota panel rumahtangga dan mengidentifikasi saluran TV yang ditontonnya.

Data ini kemudian ditransmisikan melalui GSM transmission unit ke pusat server di kantor AGBNielsen setiap hari untuk diproses

secara otomatis.

Perangkat Peoplemeter: TVM5


4

4. Pengambilan Data:

Pengambilan data di Indonesia saat ini dilakukan melalui dua sistem, yaitu on-line dan off-line. Kota-kota besar, seperti Jakarta

dan Bodetabek, Surabaya dan Gerbangkertasila, serta Bandung telah beralih penuh ke teknologi seri TVM5® dengan sistem on-

line, sementara ketujuh kota lainnya yang masih berada pada sistem off-line akan beralih teknologi mulai tahun 2008.

Pada sistem off-line, data yang direkam di dalam memori modul akan diambil setiap minggu oleh kolektor modul, untuk diganti

dengan yang baru. Modul ini kemudian dihubungkan dengan pembaca modul di kantor AGBNielsen untuk mentransfer data

kepemirsaan dari panel rumahtangga (seperti halnya mentransfer data melalui USB). Proses ini dilakukan setiap hari Minggu

(untuk data pada periode hari Minggu hingga Sabtu pada minggu sebelumnya), sehingga data kepemirsaan tersedia seminggu

sekali untuk periode 7 hari (Minggu s/d Sabtu) pada hari Rabu berikutnya.

Pada sistem on-line, data diambil setiap hari antara jam 2:00 pagi hingga 6:00 pagi melalui sistem transmisi data dengan

menggunakan jaringan telepon selular (GSM) yang diset secara otomatis dan terhubung dengan sistem Compass® Data Calling &

Polling System, yang merupakan sistem pengumpulan data di server pusat yang terkomputerisasi di kantor AGBNielsen, dalam

hal ini Jakarta. Sistem ini juga selalu dalam pengawasan kantor pusat AGBNielsen di Switzerland. Monitoring ini merupakan

bagian dari standar prosedur operasional untuk disaster recovery plan (rencana pemulihan setelah bencana) agar

kesinambungan data terjamin. Terbukti saat bencana banjir melanda Jakarta pada Februari 2007 lalu yang mengakibatkan

pemadaman listrik di beberapa tempat, data kepemirsaan TV dapat tetap disediakan tanpa hambatan yang berarti.

Diagram Koneksi Server untuk Penarikan Data (Panel rumahtangga -> Compass (Jakarta) -> Pollux (Jakarta) -> Compass &

Pollux di Global Support Server (Switzerland))


5. Produksi Data:

Data yang telah dikumpulkan oleh sistem Compass® melalui transmisi GSM kemudian diproses dan diproduksi oleh sistem

Pollux®, yang berada di server AGBNielsen di Jakarta dan juga terkoneksi ke kantor pusat di Switzerland (Buochs dan Lugano)

dengan back-up support di Malaysia (Kuala Lumpur).

Pollux® adalah sistem produksi dan penerimaan data TAM yang lengkap dan terintegrasi yang mengkombinasikan standar

internasional dengan transparansi, dalam arti pelaporan yang luas dan fleksibel pada semua fase produksi datanya. Fungsi kerja

sistem Pollux® mencakup fungsi:

1. Pusat sistem database hasil Establishment Survey

2. Sistem rekrutmen panel

3. Sistem pengelolaan panel (rotasi, drop-out, maintenance, dsb.)

5

4. Sistem polling dan line testing yang terhubung (melalui interface) dengan sistem Compass®

5. Sistem kendali mutu atas panel dengan menggunakan seperangkat standar KPI (Key Performance Indicators)

untuk panel (indikator performa untuk panel)

6. Sistem validasi data dengan menggunakan seperangkat standar KPI untuk data (indikator performa untuk data)

7. Sistem proyeksi data ke populasi TV menggunakan pembobotan secara statistik

8. Interface ke sistem pemrosesan data untuk perangkat lunak analisis Arianna®

Semua proses dalam sistem Pollux® berjalan secara otomatis untuk menghindari kesalahan manusia. Pollux® inilah yang menjadi

pusat operasi sistem TAM, yang mengendalikan proses penting konsolidasi, validasi dan analisis data kepemirsaan individu

dalam panel rumahtangga. Hasilnya disimpan sebagai database pemirsa dan diproses untuk database yang dapat dibaca dalam

sistem perangkat lunak analisis Arianna®.

Dengan terhubungnya sistem Pollux® di server pengolahan dan produksi data di setiap negara dengan Global Corporate Support

Centres di Switzerland, maka indikator-indikator performa (KPI) atas produksi dan pemrosesan data harian atau mingguan dari

semua negara, termasuk Indonesia terstandarisasi dan dapat terjaga. Umpan balik harian dari KPI ini diperoleh oleh kantor setiap

negara untuk menjaga kualitas data. Contoh informasi pemrosesan dan produksi data ini meliputi informasi mengenai jumlah

rumahtangga yang datanya berhasil ditarik setiap hari, jumlah keluarga yang datanya harus dibuang selama proses karena tidak

lolos standar validasi serta alasannya, dan jumlah rumahtangga yang datanya lolos proses validasi dan berhasil diproduksi di

penghujung hari.

Database panel di dalam sistem Pollux

6. TV Monitoring:

Seiring dengan proses produksi data harian, dilakukan juga proses monitoring TV melalui sistem monitoring TV Events® yang

berjalan selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu untuk memperoleh data program yang ditayangkan setiap TV, beserta

iklan-iklan yang ditayangkan.

6

Sistem TV Events® merupakan sistem terintegrasi yang efisien dan handal untuk mengumpulkan database rekaman dengan

kualitas yang baik. Sistem ini terdiri atas:

MultiGrabber®: Modul digital penangkap gambar televisi yang dioperasikan secara digital, tanpa menggunakan kaset

dan VCR pada tahap memasukkan data. Modul ini menerima siaran TV dengan memampatkan informasi audio dan

video dengan teknologi MPEG-4 untuk memaksimalkan penyimpanan. Meski dimampatkan, kualitas audio dan video

dipertahankan sampai 25 frame per detik.

Automatic Spot Recognition® (ASR®): Modul yang beroperasi untuk mengidentifikasi iklan yang ditayangkan secara

otomatis dengan menggunakan teknik perbandingan audio dan video, yang hanya membutuhkan validasi pengenalan

dari tampilan grafisnya. Sistem ASR® ini bersinergi dengan sistem MultiGrabber® dan beroperasi pada perangkat keras

yang sama.

TelePad®: Sistem yang memiliki jaringan untuk mengelola database di TV Events untuk stasiun-stasiun TV yang telah

dimonitor. Telepad juga mengendalikan tahap memasukkan data untuk program dan iklan, melakukan tahap verifikasi

data untuk program dan iklan, dan melakukan atribusi terhadap data harga iklan sesuai dengan yang dipublikasi

(published rate card).

7. Pemrosesan Akhir dan Pengiriman Data:

Data kepemirsaan, data rumahtangga dan demografi responden, serta data perpindahan channel yang ditonton per menit dari

panel rumahtangga yang telah diproses, diproyeksikan dan diproduksi melalui sistem Pollux® kemudian digabung secara otomatis

dengan data monitoring Program & Iklan TV yang diproduksi oleh sistem TV Event® untuk database di dalam perangkat lunak

analisis TV Arianna®:

Arianna® merupakan sistem yang inovatif, fleksibel, dan modular sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Pengguna

data TAM AGBNielsen harus memiliki perangkat lunak Arianna untuk dapat membaca data hasil survei kepemirsaan TV yang

dapat di-download melalui portal internet setiap hari dengan menggunakan sistem Arianna Smart Update®:

7

Arianna Smart Update

Sekelumit pengetahuan mengenai proses pelaksanaan survei kepemirsaan TV ini merupakan nilai transparansi yang diterapkan oleh

AGBNielsen terhadap para penguna data, khalayak industri media dan khalayak umum. Kesalahpahaman dan pertanyaan seputar data TV

dan penggunaannya sebenarnya dapat ditemukan jawabannya jika ditelaah secara faktual. Tak heran jika pepatah mengatakan tak kenal

maka tak sayang dan malu bertanya sesat di jalan. Informasi dan pertanyaan lebih lanjut dapat disampaikan melalui e-mail:


Senin, 16 Maret 2009


Jenis-jenis media masa

Media massa tradisional

Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti:

1. Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan
2. Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.
3. Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima.
4. Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.

Macam-macam media massa tradisional

* surat kabar
* majalah
* radio
* televisi
* film (layar lebar).

Media massa modern

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.

Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti:

1. Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya)
2. Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual
3. Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu
4. Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam
5. Penerima yang menentukan waktu interaksi


Pengaruh media massa pada budaya

Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari:

1. skala kecil (individu) dan luas (masyarakat)
2. kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi.

Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi masa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :

1. Siapa (who)
2. Pesannya apa (says what)
3. Saluran yang digunakan (in what channel)
4. Kepada siapa (to whom)
5. Apa dampaknya (with what effect)

Model ini adalah garis besar dari elemen-elemen dasar komunikasi. Dari model tersebut, Laswell mengidentifikasi tiga dari keempat fungsi media.

Fungsi-fungsi media massa pada budaya

1. Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan.
2. Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah.
3. Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan.
4. Fungsi hiburan (entertainment) yang diperkenalkan oleh Charles Wright yang mengembangkan model Laswell dengan memperkenalkan model dua belas kategori dan daftar fungsi. Pada model ini Charles Wright menambahkan fungsi hiburan. Wright juga membedakan antara fungsi positif (fungsi) dan fungsi negatif (disfungsi).

Pengaruh media massa pada pribadi

Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari [1]

* Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu - dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang pemirsa lihat dari media.

* Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi apa yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, dimana kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan prilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut.

* Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip "gaya rambut lupus", atau menggunakan kacamata a'la "Catatan si Boy".

* Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi "penentu", dimana mereka menentukan arah media populer saat mereka berekspresi dan mengemukakan pendapatnya.

Penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mendukung pemirsanya menjadi lebih baik atau mengempiskan kepercayaan dirinya. Media bisa membuat pemirsanya merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain .